Icon Materi

Materi 4:

Kepemimpinan dalam Pembelajaran Mendalam

Icon Modul

Modul 4

Tujuan Pembelajaran


Setelah mempelajari modul ini, pengguna diharapkan dapat menyusun program untuk pengelolaan Pembelajaran Mendalam



Bahan Bacaan Kepemimpinan dalam Praktik Pedagogis (1JP)


A. Fusi Strategi Pembelajaran dan Praktik Inovasi Terbaru

Gambar Materi

Gambar 1 Contoh Perpaduan dalam Praktik Pedagogis

Sumber: Quinn, J. Copyright © 2014 by New Pedagogies for Deep Learning™ (NPDL)/p>

Gambar di atas menegaskan bahwa praktik pedagogis yang dimaksud disini adalah menggabungkan antara model, desain, strategi, atau asesmen yang sudah ada (lihat gambar bagian kiri) dengan pendekatan inovatif yang menggabungkan strategi yang efektif (lihat gambar bagian kanan). Contoh, guru yang menerapkan problem-based learning (PBL) tidak serta merta dianggap sudah menerapkan pembelajaran mendalam, karena belum mengintegrasikan praktik pembelajaran inovatif seperti pemanfaatan e-portfolio, digital storytelling, maupun self-assessment. Tugas kepala sekolah sebagai pemimpin Pembelajaran Mendalam harus memastikan bahwa guru mengetahui cara menyusun pengalaman belajar dan tantangan, menyesuaikannya dengan kebutuhan dan minat peserta didik yang beragam.

Guru memerlukan beragam strategi untuk memenuhi berbagai kebutuhan peserta didik dan pemahaman yang mendalam tentang model yang efektif. Selain itu, guru juga harus mengembangkan keahlian dalam pemilihan metode inovatif dan penggunaan alat digital untuk pembelajaran dan penilaian.



B. Prinsip Pembelajaran Mendalam

Sebagai pemimpin pembelajaran, kepala sekolah harus memastikan pembelajaran memenuhi prinsip-prinsip pembelajaran mendalam. Tiga prinsip utama yang mendukung pembelajaran mendalam, yaitu berkesadaran, bermakna, dan menggembirakan.



1. Prinsip Berkesadaran merupakan pengalaman belajar peserta didik yang diperoleh ketika mereka memiliki kesadaran untuk menjadi pembelajar yang aktif dan mampu meregulasi diri. Peserta didik memahami tujuan pembelajaran, termotivasi secara intrinsik untuk belajar, serta aktif mengembangkan strategi belajar untuk mencapai tujuan. Ketika peserta didik memiliki kesadaran belajar, mereka akan memperoleh pengetahuan dan keterampilan sebagai pembelajar sepanjang hayat. Adapun indikator dari berkesadaran adalah:


  1. Kenyamanan peserta didik dalam belajar
  2. Fokus, konsentrasi, dan perhatian
  3. Kesadaran terhadap proses belajar
  4. Keterbukaan terhadap perspektif baru
  5. Keingintahuan terhadap pengetahuan dan pengalaman baru


2. Prinsip Bermakna terjadi ketika peserta didik dapat menerapkan pengetahuannya secara kontekstual. Proses belajar peserta didik tidak hanya sebatas memahami informasi/ penguasaan konten, namun berorientasi pada kemampuan mengaplikasi pengetahuan. Pembelajaran yang terkoneksi dengan lingkungan peserta didik membuat mereka memahami siapa dirinya, bagaimana menempatkan diri, dan bagaimana mereka dapat berkontribusi kembali. Pembelajaran bermakna melibatkan peserta didik dengan isu nyata dalam konteks personal/ lokal/ nasional/ global. Pembelajaran harus melibatkan orang tua, masyarakat, atau komunitas sebagai sumber pengetahuan praktis, serta menumbuhkan rasa tanggung jawab dan kepedulian sosial. Adapun indikator dari bermakna adalah:


  1. Kontekstual dan/atau relevan dengan kehidupan nyata
  2. Keterkaitan dengan pengalaman sebelumnya
  3. Kebermanfaatkan pengalaman belajar untuk diterapkan dalam konteks baru
  4. Keterkaitan dengan bidang ilmu lain
  5. Pembelajaran sepanjang hayat


3. Prinsip Menggembirakan merupakan suasana belajar yang positif, menantang, menyenangkan, dan memotivasi. Rasa senang dalam belajar membantu peserta didik terhubung secara emosional, sehingga lebih mudah memahami, mengingat, dan menerapkan pengetahuan. Ketika peserta didik menikmati proses belajar, motivasi intrinsik mereka akan tumbuh, mendorong rasa ingin tahu, kreativitas, dan keterlibatan aktif. Adapun indikator dari menggembirakan adalah:


  1. Bergembira dalam belajar
  2. Perasaan nyaman karena terpenuhi kebutuhannya seperti pemenuhan kebutuhan fisiologis, kebutuhan rasa aman, kebutuhan kasih sayang dan rasa memiliki, kebutuhan penghargaan, serta kebutuhan aktualisasi diri.